Bila kita
mendengar kata sabang, mungkin yang terlintas di pikiran kita untuk pertama
kali adalah sebuah bait lagu nasional yang kita nyanyikan pada hari-hari besar
nasional. Selama kita menyanyi (“dari Sabang sampai Merauke berjajar
pulau-pulau…) lagu itu pernahkah terlintas dalam pikiran kita seperti apa
tempat yang kita nyanyikan tersebut. Suatu saat saya dapat kesempatan
mengunjungi tempat di lagu yang dulu sering dinyanyikan itu. Sungguh tak
terbayangkan ternyata pulau paling ujung barat Indonesia itu menyimpan
keindahan yang memanjakan mata. Ada beberapa objek wisata yang dapat Anda kunjungi di
Sabang. Namun jika kita pertama kali datang ke Sabang maka ada suatu aturan tak
tertulis bahwa kita harus sampai di tempat paling ujung Pulau Weh yang tidak
lain adalah ujung paling barat Indonesia yaitu ‘Tugu Nol (0) Kilometer
Indonesia’.
Perjalanan ke lokasi Tugu
dari pusat kota Sabang menghabiskan waktu ± 1 jam dengan kendaraan
bermotor. Perjalanan ke tugu tersebut akan didominasi dengan
jalan berkelok dan naik turun. Namun
dipastikan kita tidak akan bosan, karena kita disuguhkan pemandangan hijau dari
bukit-bukit yang tertata rapi seperti lukisan nyata di depan mata serta pemandangan ke arah samudera Indonesia
yang warnanya birunya beradu cantik dengan birunya langit yang dipenuhi
gumpalan ‘kapas besar’ yang sedang berkarnaval. Sesekali kita akan melihat
aktivitas masyarakat pesisir pantai yang sibuk dengan peralatan
nelayannya maupun yang sekedar bersantai di depan rumahnya. Selain itu kita
akan melewati jalan yang biasanya dihuni banyak kera berekor panjang yang cukup jinak
seperti seolah ingin menyapa para wisatawan yang melintas jalan tersebut.
Sesampainya
disana kita akan menemui tugu yang menjulang diantara tingginya
pepohonan dengan kondisi yang cukup terawat. Tugu tersebut adalah Prasasti yang
menandakan nol kilometer Indonesia terletak di tempat tersebut. Jika kita
memandang ke arah barat dan utara yang akan kita lihat adalah lautan lepas
yang seolah-olah tak ada ujungya dengan deburan ombaknya yang tiada
lelah menghantam batu karang di pinggir pulau ini.
Ada pula sebuah batu besar di luar pagar tembok di bagian paling ujung pulau ini. Bila kita berdiri atau sekedar duduk di batu tersebut maka secara faktual kita telah berada di bagian ujung paling barat Indonesia. Sebuah kesempatan langka kita bisa berada di ujung negara berpenduduk sekitar 237 juta orang ini. Saya sendiri memanfaatkan tempat dan momen langka tersebut untuk sarapan. Jarang-jarang kan bisa sarapan di ujung Indonesia?.
Ada pula sebuah batu besar di luar pagar tembok di bagian paling ujung pulau ini. Bila kita berdiri atau sekedar duduk di batu tersebut maka secara faktual kita telah berada di bagian ujung paling barat Indonesia. Sebuah kesempatan langka kita bisa berada di ujung negara berpenduduk sekitar 237 juta orang ini. Saya sendiri memanfaatkan tempat dan momen langka tersebut untuk sarapan. Jarang-jarang kan bisa sarapan di ujung Indonesia?.
Untuk pengesahan kita telah ke Tugu nol Km dan jika
berminat, ada petugas yang membuat sertifikat pengunjung nol Km.
Cukup dengan uang Rp 20.000,00, Anda bisa membuat sertifikat yang langka tersebut. Untuk para traveller tampaknya belum sah kita
mengelilingi Indonesia jika kita belum mengunjungi ujung paling barat
Indonesia, tepatnya ‘Tugu Nol (0) Km Indonesia’, dimana semua kegalauan
Indonesia dimulai dari sini (piyoh design). Indonesia memang terlalu indah untuk tidak kita cintai. ☺
setelah membaca artikel bred iyank jadi pengen ke 0 KM tapi nunggu ada yg bayarin ada nggak ya hee" jangan berhenti menoreh pena dalam setiap perjalanan ente ya bred smangatt
BalasHapusente nyampe sabang, akomodasi ane tanggung dah..tp ktmnya d sabang y,hehe
Hapus