Minggu, 03 Februari 2013

Tugu Nol (0) Kilometer Indonesia, Semua kegalauan Indonesia dimulai dari sini.


Bila kita mendengar kata sabang, mungkin yang terlintas di pikiran kita untuk pertama kali adalah sebuah bait lagu nasional yang kita nyanyikan pada hari-hari besar nasional. Selama kita menyanyi (“dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau…) lagu itu pernahkah terlintas dalam pikiran kita seperti apa tempat yang kita nyanyikan tersebut. Suatu saat saya dapat kesempatan mengunjungi tempat di lagu yang dulu sering dinyanyikan itu. Sungguh tak terbayangkan ternyata pulau paling ujung barat Indonesia itu menyimpan keindahan yang memanjakan mata. Ada beberapa objek wisata yang dapat Anda kunjungi di Sabang. Namun jika kita pertama kali datang ke Sabang maka ada suatu aturan tak tertulis bahwa kita harus sampai di tempat paling ujung Pulau Weh yang tidak lain adalah ujung paling barat Indonesia yaitu ‘Tugu Nol (0) Kilometer Indonesia’.
Perjalanan ke lokasi Tugu dari pusat kota Sabang menghabiskan waktu ± 1 jam dengan kendaraan bermotor. Perjalanan ke tugu tersebut akan didominasi dengan jalan berkelok dan naik turun. Namun dipastikan kita tidak akan bosan, karena kita disuguhkan pemandangan hijau dari bukit-bukit yang tertata rapi seperti lukisan nyata di depan mata  serta pemandangan ke arah samudera Indonesia yang warnanya birunya beradu cantik dengan birunya langit yang dipenuhi gumpalan ‘kapas besar’ yang sedang berkarnaval. Sesekali kita akan melihat aktivitas masyarakat pesisir pantai yang sibuk dengan peralatan nelayannya maupun yang sekedar bersantai di depan rumahnya. Selain itu kita akan melewati jalan yang biasanya dihuni banyak kera berekor panjang yang cukup jinak seperti seolah ingin menyapa para wisatawan yang melintas jalan tersebut
Sesampainya disana kita akan menemui tugu yang menjulang diantara tingginya pepohonan dengan kondisi yang cukup terawat. Tugu tersebut adalah Prasasti yang menandakan nol kilometer Indonesia terletak di tempat tersebut. Jika kita memandang ke arah barat dan utara yang akan kita lihat adalah lautan lepas yang seolah-olah tak ada ujungya dengan deburan ombaknya yang tiada lelah menghantam batu karang di pinggir pulau ini.

 Ada pula sebuah batu besar di luar pagar tembok di bagian paling ujung pulau ini. Bila kita berdiri atau sekedar duduk di batu tersebut maka secara faktual kita telah berada di bagian ujung paling barat Indonesia. Sebuah kesempatan langka kita bisa berada di ujung negara berpenduduk sekitar 237 juta orang ini. Saya sendiri memanfaatkan tempat dan momen langka tersebut untuk sarapan. Jarang-jarang kan bisa sarapan di ujung Indonesia?.
 
Untuk pengesahan kita telah ke Tugu nol Km dan jika berminat, ada petugas yang membuat sertifikat pengunjung nol Km. Cukup dengan uang Rp 20.000,00, Anda bisa membuat sertifikat yang langka tersebut. Untuk para traveller tampaknya belum sah kita mengelilingi Indonesia jika kita belum mengunjungi ujung paling barat Indonesia, tepatnya ‘Tugu Nol (0) Km Indonesia’, dimana semua kegalauan Indonesia dimulai dari sini (piyoh design). Indonesia memang terlalu indah untuk tidak kita cintai. ☺

2 komentar:

  1. setelah membaca artikel bred iyank jadi pengen ke 0 KM tapi nunggu ada yg bayarin ada nggak ya hee" jangan berhenti menoreh pena dalam setiap perjalanan ente ya bred smangatt

    BalasHapus
    Balasan
    1. ente nyampe sabang, akomodasi ane tanggung dah..tp ktmnya d sabang y,hehe

      Hapus