Rabu, 27 Februari 2013

Burger Jamur : Cita Rasa Global + Kearifan Lokal


Yogyakarta merupakan kota yang kaya dengan budaya. Jika kita berkunjung ke Jogja maka kita akan sangat familiar dengan menu Gudeg, bakpia, ataupun beragam macam makanan yang tersaji setiap di angkringan sudut kota pelajar ini. Namun tahukah Anda bahwa di Jogja juga ada sebuah kuliner khas yang baru pertama saya temui di Jogja, perpaduan antara makanan luar negeri namun tidak melupakan kearifan lokal Indonesia yaitu Burger Jamur. Cerita bermula ketika hari mulai sore dan saya bersama seorang teman saya mulai kelaparan setelah berkeliling di Taman Pintar Jogja. Kami pun bergegas mencari apapun yang bisa menenangkan cacing-cacing yang sudah mulai berdemo di dalam perut. Melangkah ke luar melalui pintu belakang Taman Pintar yang pertama kali cari adalah angkringan. Tetapi karena angkringan yang kami lihat terlalu jauh, jadilah kami melihat yang pedagang yang ada di sekitar belakang Taman Pintar itu. Berjualan di sebuah mobil yang dimodifikasi menjadi toko berjalan seorang pedagang menawarkan burger pada kami. Namun dalam pikiran kami sudah sampai Jogja kalau cuma makan burger mendingan ke restoran fast food di Jakarta juga banyak. Pada awalnya kami sedikit mengacuhkannya dan pilihan kami jatuh ke ibu yang berjualan tukang sate ayam. Alasan kami memilih sate ayam karena perut memang lagi lapar-laparnya dan kalau sate itu pasti ada lontong atau nasinya. Padahal sama kenapa milih sate ayam ya, padahal di Jakarta juga banyak, merasa bersalah sama tukang burger tadi.

Jodoh memang tak akan kemana. Kami tidak dapat tempat duduk untuk makan sate, namun dengan senyum ramahnya tukang burger yang tadi menawarkan kami mempersilahkan kami duduk di kedai mobilnya. Kami pun akhirnya duduk di sana. Kami melihat ke sekitar ternyata burger yang ditawarkan tadi bukan burger biasa melainkan Burger Jamur. Kami pun langsung bertanya-tanya pada penjualnya. Penjual tersebut lagi-lagi dengan ramahnya menjawab apa yang kami tanyakan, padahal belum tentu kita mau beli, hehehe. Namun penjelasan penjual itu tidak sia-sia. Percakapan dengannya membuat kami tertarik dan memesan Burger Jamur tersebut. Cukup dengan uang lima ribu rupiah kita sudah bisa mendapatkan Burger Jamur original.  Burger ini layaknya burger umumnya, yakni roti burger yang dimasak dengan margarin serta selada dan tomat yang disisipkan dengan saus tomat, saus cabai dan mayoinnaise, bedanya adalah kalau di burger biasa memakai bahan daging olahan, ini menggunakan ‘daging’ yang terbuat dari jamur. Sekilas kita melihat burger tersebut seperti burger biasa, karena jamur diolah demikian rupa sehingga bentuknya seperti daging burger biasa. Namun setelah kita gigit burger itu, tekstur ‘daging’ dari jamur tadi sangat mirip seperti daging burger pada umumnya, namun rasanya berbeda. Rasa jamurnya tidak terlalu kentara, namun kepadatan teksturnya jadi mirip jamur dicampur daging, padahal tidak ada daging sama sekali dalam olahannya. Gurihnya ‘daging’ jamur bercampur pedasnya saus cabai ditambah balutan mayoinnaise yang creamy serta segarnya selada, mentimun dan tomat membuat setiap gigitan Burger Jamur ini berjuta rasanya di mulut. Rasa yang sudah beragam dan yummy ini akan lebih kaya rasa jika Anda memesan yang Burger Jamur + Cheese. Cukup dengan hanya menambah lima ribu rupiah lagi kita dapat merasakan kenikmatan Burger Jamur yang ditambah rasa keju yang meleleh ketika di dalam mulut. Nyammm… Burger Jamur dan Burger Jamur + Cheese membuat mulut dan perut saya terpuaskan. 
Jika Anda berkunjung ke Jogja ataupun Anda yang di Jogja, kuliner ini tentu patut dicoba selain kuliner yang sudah familiar di sana. Menu ini sangat cocok untuk Anda yang vegetarian. Jamur ternyata bisa juga menjadi daging yang enak dan sehat tentunya. Outlet yang saya temui berlokasi di sekitar pintu belakang Taman Pintar Jogja. Walaupun namanya burger, penjual menjamin semua bahan yang digunakan 100% bahan-bahan lokal. Jadi bisa dikatakan bahwa Burger Jamur adalah makanan  bercita rasa global berbalut kearifan lokal. Selamat Menikmati.

Jumat, 08 Februari 2013

GILI KONDO,secuil surga di Lombok Timur


Perjalanan saya ke Gili Kondo sebenarnya bukan merupakan wisata utama saya, karena tujuan utama saya ke lombok pada saat itu adalah untuk menggapai puncak Gunung Rinjani. Namun setelah Puncak Gunung Rinjani berhasil dicapai maka saya dan ketiga teman saya ingin menikmati keindahan Gili-gili yang ada di Lombok.

Pada awalnya saya sangat ingin menikmati gili trawangan, namun karena kendala waktu dan jarak yang lebih mudah ditempuh dari jalur turun gunung saya, maka teman yang mengantar saya menyarankan untuk berangkat ke gili Kondo. Selain alasan jarak dan waktu, teman saya merekomendasikan Gili Kondo, karena menurutnya disana lebih eksotis daripada gili trawangan yang sudah padat dengan penginapan dan berbagai fasilitas yang mengurangi keindahan sebuah gili.

Sekitar jam 9 pagi kami berangkat dari wilayah Senaru menuju Gili Lampu yang merupakan pantai penyeberangan ke Gili Kondo. Setelah perjalanan sekitar 1,5 jam, kami sampai di Gili Lampu. Beruntungnya kami adalah mendapat fasilitas penyeberangan gratis dari pengusaha rumput laut baik hati yang ingin meninjau lahan rumput lautnya. Penyeberangan menggunakan perahu motor nelayan yang cukup cepat. Sekitar 45 menit peneberangan, kami pun sampai di Gili Kondo yang amat Indah.

Hamparan pasir putih yang cukup luas, birunya laut yang memiliki gradasi warna akibat berbeda kedalaman, dan cerahnya langit ditambah awan yang menggumpal menambah keindahan di pulau kecil ini. Air di pinggir pantainya sangat jernih, sehingga kita bisa melihat terumbu karang yang cantik. Pemandangan di seberang pulau pun tidak kalah indahnya. Jika kita menghadap ke barat, maka kita akan melihat pulau Lombok yang gagah dengan perbukitannya dan awan yang menggantung bagi selendang perbukitan. Mengalihkan pandangan kita ke arah timur maka kita akan menyaksikan gugusan pulau Sumbawa besar dan kecil yang begitu memesona. Saat kita menghadap utara, maka Gili Bedagan dan Bidara akan terlihat cantik dengan bibir pantai berwarna putih bersih.



Gili Kondo sendiri, nama aslinya adalah Gili Bagik. Namun pihak pengelola, mengubah namanya menjadi Gili Kondo. Gili kondo yang asli luasnya lebih kecil dibanding yang sekarang. Gili Kondo dijaga sekitar 3-5 orang pengelola. Untuk yang ingin menginap jangan khawatir, karena ada fasilitas cottage yang terbuat dari kayu yang sangat eksotis. Persediaan air bersih pun cukup memadai di sini. di pinggir pantai ada beberapa tempat bilas yang terbuat dari anyaman bambu dengan shower di dalamnya. Ada juga makanan yang dijual oleh pengelola. Jika ingin menyewa alat snorkeling, maka cukup mengeluarkan uang sebesar 25 ribu rupiah untuk masa sewa sehari alias sepuasnya. Berbeda dengan Gili trawangan yang penyewaannya 25 ribu hanya untuk 1 jam.


Jika berkunjung ke Lombok maka jangan lupa untuk datang ke Lombok timur, tepatnya ke Gili KOndo, Gili Bidara, Gili Kapal dan Gili Bedagan. Sungguh kalian akan menyaksikan secuil surga yang ada di dunia ini di depan kalian.

Minggu, 03 Februari 2013

Tugu Nol (0) Kilometer Indonesia, Semua kegalauan Indonesia dimulai dari sini.


Bila kita mendengar kata sabang, mungkin yang terlintas di pikiran kita untuk pertama kali adalah sebuah bait lagu nasional yang kita nyanyikan pada hari-hari besar nasional. Selama kita menyanyi (“dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau…) lagu itu pernahkah terlintas dalam pikiran kita seperti apa tempat yang kita nyanyikan tersebut. Suatu saat saya dapat kesempatan mengunjungi tempat di lagu yang dulu sering dinyanyikan itu. Sungguh tak terbayangkan ternyata pulau paling ujung barat Indonesia itu menyimpan keindahan yang memanjakan mata. Ada beberapa objek wisata yang dapat Anda kunjungi di Sabang. Namun jika kita pertama kali datang ke Sabang maka ada suatu aturan tak tertulis bahwa kita harus sampai di tempat paling ujung Pulau Weh yang tidak lain adalah ujung paling barat Indonesia yaitu ‘Tugu Nol (0) Kilometer Indonesia’.
Perjalanan ke lokasi Tugu dari pusat kota Sabang menghabiskan waktu ± 1 jam dengan kendaraan bermotor. Perjalanan ke tugu tersebut akan didominasi dengan jalan berkelok dan naik turun. Namun dipastikan kita tidak akan bosan, karena kita disuguhkan pemandangan hijau dari bukit-bukit yang tertata rapi seperti lukisan nyata di depan mata  serta pemandangan ke arah samudera Indonesia yang warnanya birunya beradu cantik dengan birunya langit yang dipenuhi gumpalan ‘kapas besar’ yang sedang berkarnaval. Sesekali kita akan melihat aktivitas masyarakat pesisir pantai yang sibuk dengan peralatan nelayannya maupun yang sekedar bersantai di depan rumahnya. Selain itu kita akan melewati jalan yang biasanya dihuni banyak kera berekor panjang yang cukup jinak seperti seolah ingin menyapa para wisatawan yang melintas jalan tersebut
Sesampainya disana kita akan menemui tugu yang menjulang diantara tingginya pepohonan dengan kondisi yang cukup terawat. Tugu tersebut adalah Prasasti yang menandakan nol kilometer Indonesia terletak di tempat tersebut. Jika kita memandang ke arah barat dan utara yang akan kita lihat adalah lautan lepas yang seolah-olah tak ada ujungya dengan deburan ombaknya yang tiada lelah menghantam batu karang di pinggir pulau ini.

 Ada pula sebuah batu besar di luar pagar tembok di bagian paling ujung pulau ini. Bila kita berdiri atau sekedar duduk di batu tersebut maka secara faktual kita telah berada di bagian ujung paling barat Indonesia. Sebuah kesempatan langka kita bisa berada di ujung negara berpenduduk sekitar 237 juta orang ini. Saya sendiri memanfaatkan tempat dan momen langka tersebut untuk sarapan. Jarang-jarang kan bisa sarapan di ujung Indonesia?.
 
Untuk pengesahan kita telah ke Tugu nol Km dan jika berminat, ada petugas yang membuat sertifikat pengunjung nol Km. Cukup dengan uang Rp 20.000,00, Anda bisa membuat sertifikat yang langka tersebut. Untuk para traveller tampaknya belum sah kita mengelilingi Indonesia jika kita belum mengunjungi ujung paling barat Indonesia, tepatnya ‘Tugu Nol (0) Km Indonesia’, dimana semua kegalauan Indonesia dimulai dari sini (piyoh design). Indonesia memang terlalu indah untuk tidak kita cintai. ☺

Sabtu, 02 Februari 2013

Komplek Teletubbies dan Sang Gembala Sakti di Jalur Sembalun, Gunung Rinjani

Salah satu jalur untuk mencapai puncak Gunung Rinjani, Lombok, adalah jalur Sembalun. Ada keunikan pada jalur ini yang tak dimiliki jalur lain, salah satunya karena hamparan luas rerumputan bak dunia Teletubbies! Gunung Rinjani adalah salah satu gunung terindah yang dimiliki Indonesia. Kemasyhurannya tidak hanya di dalam negeri tetapi sampai ke mancanegara. Tidak heran jika mendaki gunung tersebut, kita akan lebih sering bertemu dengan pendaki asing dibandingkan dengan pendaki lokal. Kali ini saya akan memulai cerita keindahan alam taman nasional Gunung Rinjani dari jalur pendakian bagian timur, yaitu jalur Sembalun. Konon, jalur Sembalun adalah jalur yang tercepat untuk sampai ke puncak Rinjani dibandingkan jalur Senaru yang lebih familiar di kalangan pendaki. Perjalanan kami mulai melalui desa Bawak Nau, karena kami bisa hemat waktu 2 jam dibandingkan jika berangkat dari gerbang Sembalun. Ketika akan berangkat kami melihat gerombolan sapi arak-arakan bagaikan sedang karnaval di jalan utama desa. Saya sempat kaget, melihat begitu banyak sapi di jalan umum. Ternyata sapi-sapi tersebut adalah punya warga di desa tersebut dan sedang digembala oleh seorang gembala sapi. Ya satu orang gembala sapi, tidak lebih, menggembala sekitar 50 sapi. Hal ini cukup menarik karena sang gembala bisa menjaga begitu banyak sapi dengan hanya seorang diri.
 Kami berdoa sebelum memulai perjalanan panjang. Awal perjalanan kami melewati rumah penduduk dan perkebunan sayur penduduk. Setelah keluar dari perkebunan, kami disuguhkan pemandangan menakjubkan dari istana Sang Dewi Anjani. Gunung Rinjani yang begitu gagah berdiri tegap dengan diselendangi awan putih pada hamparan langit nan biru semakin memacu semangat kami untuk bisa sampai ke puncaknya. Hamparan padang savana di jalur ini mengingatkan saya pada dunia serial anak Teletubbies yang sempat 'booming' pada awal tahun 2000-an. Jajaran padang rumput yang seperti tiada bertepi dan konturnya yang berbukit, benar-benar seperti tempat bermain Tinky Winky dan kawan-kawannya. Namun tentu saja, di tempat ini pemandangannya jauh lebih indah!

 Setelah memasuki hutan sekitar setengah jam, lagi-lagi kami berhadapan dengan savana berbukit. Namun pada kesempatan ini kamibertemu dengan sapi-sapi yang tadi ditemui di desa yang sedang asik menyantap rumput di tanah lapang. Sementara penggembala sapinya sendiri sedang beristirahat. Kami menyempatkan diri untuk istirahat sebentar di situ. Menurut Bang Gmok yang menjadi pemandu kami, walaupun sapi yang digembala banyak, sang gembala tidak akan lupa satu per satu sapinya. Dan walaupun sapi-sapi itu tersebar di savana yang luas, mereka akan berkumpul jika sang gembala memanggilnya. Tampaknya kemampuan memanggil sapi tersebut adalah sebuah keterampilan yang tidak sembarangan. Jika dipanggil, maka sapi-sapi tersebut akan menghampirinya dan jika masih ada sapi yang belum kumpul, maka gembala itu pasti akan mengetahuinya. Tidak salah jika saya menyebut gembala sapi itu adalah "Sang Gembala Sakti", karena kemampuannya tidak dimiliki semua orang bahkan orang yang biasa menggembala sekalipun. Perjalanan kami lanjutkan dengan terus naik turun 'bukit Teletubbies' alami yang ternyata lebih luas dibandingkan yang ada di serial tv.

Cuaca yang tak terlalu terik membuat perjalanan terasa lebih ringan. Menurut saya, jika anda ingin menggapai puncak Gunung Rinjani lebih cepat, ada baiknya anda memilih jalur Sembalun yang lebih landai namun tidak kalah menarik dibandingkan jalur lainnya. Siapa tahu anda bisa bertemu "Sang Gembala Sakti" di hamparan 'bukit Teletubbies' alami yang hijau dan begitu mengagumkan.

Jumat, 01 Februari 2013

First Posting : Confirmation

Hari ini blog ini Gampongia Way (gampongia.blogspot.com) saya buat khusus untuk tulisan tentang perjalanan saya maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan perjalanan. Mungkin Anda akan temui postingan yang sebelumnya ada di febrianto-lesmana.blogspot.com itu merupakan sebuah proses migrasi dari blog pribadi saya ke blog yang lebih khusus untuk perjalanan ini. Jadi hal tersebut bukan sebuah plagiat atau semacamnya, karena pemilik kedua blog tersebut adalah sama, FEBRIANTO LESMANA.