Gajah merupakan salah satu hewan purbakala yang masih ada
sampai saat ini. Namun karena jumlahnya yang semakin hari semakin berkurang
menjadikan gajah sebagai hewan yang dilindungi. Selama ini untuk dapat melihat
gajah kita harus berkunjung ke kebun binatang atau taman safari yang ada di
sekitar kota kita. Namun suatu hari saya mendapat kesempatan menyaksikan gajah
di sebuah dusun yang didominasi hutan lebat.
Saree, itulah nama daerah dimana terdapat sebuah dusun
yang bernama dusun Gajah. Terletak dalam wilayah Kecamatan Lembah Seulawah,
Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Sebenarnya pemberian nama dusun Gajah itu
sendiri bukan tanpa alasan, karena memang di dusun tersebut terdapat hutan yang
menjadi semacam sekolah gajah layaknya sekolah gajah yang terdapat di Way
Kambas, Lampung. Gajah-gajah yang berada disini terdiri dari gajah yang memang
habitat aslinya ada di kawasan tersebut maupun gajah-gajah liar di kawasan
hutan Aceh yang sering masuk ke pemukiman atau perkebunan warga.
Sebenarnya kunjungan saya ke dusun Gajah merupakan sebuah
hasil dari rasa penasaran saya ketika orang lain mengidentikan Saree dengan
gajah di Aceh. Kebetulan saya saat itu sedang mengikuti sebuah pelatihan teknis
statistik pertanian di daerah tersebut dan saat istirahat sore, saya dan
teman-teman perwakilan BPS kabupaten lain di Aceh berkeliling menggunakan
sepeda motor untuk menemukan kawasan gajah yang banyak dibicarakan orang
tersebut. Ketika sampai di sebuah kawasan yang penuh dengan penjual oleh-oleh
khas Saree, salah satu teman saya menanyakan tentang dimana kita dapat
menemukan gajah di sana kepada salah seorang penjual oleh-oleh. Orang tersebut
mengatakan ada di dusun gajah namun menurutnya gajahnya keluar hanya pada hari
sabtu, minggu, ataupun liburan. Penjelasan orang itu tidak membuat kami patah
semangat menemukan gajah pada sore itu. Akhirnya kami tetap mendatangi dan
menelusuri dusun gajah yang dimaksud.
Sekitar 300 meter dari gapura dusun gajah terdapat sebuah
lapangan rumput yang mana setelah lapangan rumput itu adalah hutan tempat
gajah-gajah itu hidup. Beruntungnya kami saat kami kesana kami melihat seekor
bayi gajah yang masih berumur satu tahun bersama pawangnya yang sedang bermain
di sekitar lapangan tersebut. Bayi gajah tersebut bernama Agam. Saya pribadi baru
kali ini bertemu secara langsung dengan bayi gajah, ternyata tingkahnya cukup
menggemaskan. Hanya bertemu dengan bayinya tidak membuat kami puas, akhirnya
kami meminta pawangnya untuk memanggil gajah yang sedang ada di hutan. Awalnya
kami ragu, tetapi ternyata dengan senang hati sang pawang menjemput salah satu
gajah yang ada di dalam hutan untuk diperlihatkan pada kami. Tidak hanya itu,
pawang itu bahkan menawarkan kepada kami untuk menaiki gajah yang dijemputnya.
Akhirnya kami pun secara bergantian menaiki gajah liar tersebut.
Mungkin Anda mengira naik gajah itu sudah biasa karena
bisa dilakukan di kebun binatang atau taman safari. Sensasi yang akan Anda
temui tentu akan berbeda saat anda menaiki gajah liar di Saree ini. Kalau
biasanya kita bisa duduk manis dengan alas duduk yang ada di atas gajah, disini
kita langsung duduk menyentuh kulit gajah yang tebal dan keras tersebut. Rasa
hangat dari tubuh gajah dan pergerakan tulang gajah saat berjalan bisa kita
rasakan langsung disini, tentu hal ini tidak akan Anda rasakan saat menaiki
gajah di tempat pariwisata pada umumnya. Selain itu, jika biasanya kita harus
menaiki tangga sebelum menaiki gajah maka kalau disini justru gajah itu yang
akan duduk terlebih dahulu saat kita akan naik maupun turun dari tubuh gajah.
Medan yang dilalui saat kita berkeliling gajah pun lebih menantang karena gajah
itu sempat memasuki hutan alami di sekitar lapangan tersebut sebelum kembali ke
lapangan itu. Satu hal yang saya takjub adalah kemampuan pawang untuk membuat
gajah itu menurut kepadanya.
Jika biasanya kita melihat pawang di tempat wisata menggunakan alat dari besi yang dipukul ke badan gajah agar gajah itu menurutinya, tidak demikian dengan pawang di Saree. Di sini pawang tersebut tidak menggunakan alat apapun alias tangan kosong untuk memerintah si gajah. Pawang itu hanya memberikan perintah dan isyarat-isyarat kepada gajahnya, sehingga di sini tidak ada gajah yang tersakiti dengan alat besi pemukul tersebut. Tidak adanya batas antara kami dan gajah untuk bermain-main menghadirkan suatu rasa yang sangat berbeda dibanding menyaksikan gajah di tempat lain.
Jika biasanya kita melihat pawang di tempat wisata menggunakan alat dari besi yang dipukul ke badan gajah agar gajah itu menurutinya, tidak demikian dengan pawang di Saree. Di sini pawang tersebut tidak menggunakan alat apapun alias tangan kosong untuk memerintah si gajah. Pawang itu hanya memberikan perintah dan isyarat-isyarat kepada gajahnya, sehingga di sini tidak ada gajah yang tersakiti dengan alat besi pemukul tersebut. Tidak adanya batas antara kami dan gajah untuk bermain-main menghadirkan suatu rasa yang sangat berbeda dibanding menyaksikan gajah di tempat lain.
Untuk dapat bermain-main di dusun gajah ini, sebenarnya kita tidak dipungut biaya sepeser pun. Namun alangkah lebih baiknya jika kita dapat memberi manfaat kepada pawang-pawang yang berloyalitas merawat binantang langka tersebut. Letak dusun yang berada di sisi jalan lintas Medan-Banda Aceh membuat kawasan ini sangat mudah ditemui jika kita telah memasuki kawasan Saree, Aceh Besar. Dari kota Medan, perjalanan ke tempat ini bisa ditempuh sekitar 11 jam perjalanan. Sedangkan dari Banda Aceh, perjalanan ke tempat ini hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Tidak ada papan nama besar untuk tempat ini, yang ada hanya sebuah papan nama kecil dekat gerbang dusun gajah. Namun Anda tidak perlu khawatir akan sulit menemuinya. Karena bila kita menemui jejeran toko penjual oleh-oleh khas Saree dan rumah makan yang bertuliskan Gajah di jalan itu berarti kita sudah sampai di sekitar kawasan tersebut. Bermain dengan gajah di alam liar bisa menjadi sebuah pengalaman yang patut Anda coba jika Anda berkunjung ke Aceh. Selamat menikmati Indonesia.