Selasa, 28 April 2015

Gayo Lues, Negeri Seribu Bukit

Sungai dalam perjelanan menuju air terjun Rereba

Gayo Lues merupakan salah satu kabupaten di Aceh yang hampir seluruh wilayahnya terletak di dataran tinggi selain Kabupaten Aceh Tengah. Jika mendengar kata Gayo, maka tiga hal yang terpikir oleh kita adalah suku, kopi, dan tarian khas. Tidak salah memang jika kita berpikir demikian, karena tiga hal tersebut yang melekat dengan kata Gayo.
Namun tahukah Anda, bahwa Gayo Lues sebenarnya juga memiliki potensi wisata yang tidak kalah indah dengan objek wisata dalam negeri dan luar negeri sekalipun. Melimpahnya pohon pinus dan kesejukan udara di Gayo Lues dapat membawa kita bagaikan berada di Montana , Amerika Serikat. Julukan “Negeri Seribu Bukit”  memang sangat pantas disematkan untuk wilayah ini karena memang kontur alamnya yang berbukit-bukit. Ketika saya berkunjung ke Gayo Lues, saya memulai perjalanan dari kota Takengon. Jam 2 dini hari mobil L300 menjemput saya untuk beranjak meninggalkan Takengon menuju Blangkejeren, yang merupakan ibukota Gayo Lues. Sekitar jam 9 pagi mobil yang saya tumpangi telah sampai di kantor BPS Kabupaten Gayo Lues, dimana teman saya yang akan mengantar saya berkeliling telah menunggu. Objek pertama yang saya kunjungi setelah rehat sejenak adalah air terjun bertelaga biru di desa Rerebe, kecamatan Tripe Jaya yang dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan sepeda motor dari Blangkejeren.
Perjalanan menuju air terjun Rerebe menyuguhkan pemandangan alam yang mirip dengan latar tempat di film series  “Twilight” yakni jalanan berbukit dengan dipenuhi  susunan pohon pinus di pinggir jalan dan hampir sejauh mata memandang. Sesekali kita akan melewati desa yang dipenuhi dengan pemukiman warga dan beberapa hamparan sawah. Namun begitu keluar dari desa maka pohon pinus lah yang setia menemani perjalanan kita. Sungai yang membelah bukit begitu bersih dan jernih  menjadi salah satu sajian selama perjalanan. Setelah puluhan bukit dan lembah dilalui, akhirnya kami tiba di desa Rerebe. Kami singgah sejenak di warung untuk membeli makanan untuk dinikmati ketika sampai di lokasi nantinya.
Dari pusat desa ke lokasi air terjun kita masih harus melewati beberapa ladang milik warga sekitar yang kali ini jalannya masih berupa tanah. Setelah perjalanan yang cukup melelahkan akhirnya Air Terjun dan Telaga Biru Rerebe hadir di pelupuk mata. Baru melihat saja rasanya begitu menyegarkan, apalagi di saat cuaca yang cukup terik. Pohon-pohon yang masih rindang di sekitar lokasi membuat daerah sekitar telaga terasa sejuk. Begitu sampai langsung saja saya mengeluarkan kamera andalan untuk mengabadikan salah satu tempat terindah yang diciptakan Tuhan ini. Lelah mengambil gambar, kami pun menyantap makanan yang telah kami beli sebelumnya. Setelah perut terisi dan tenaga pun kembali, gemuruh air terjun dan air di telaga seolah mengajak kita untuk merasakan segarnya menyeburkan diri ke dalamnya, maka akhirnya kami pun menikmatinya dengan bermain air dan berenang di telaga biru tersebut.
air terjun dan telaga rerebe

Kurang pas rasanya mengunjungi Gayo Lues tanpa menikmati kopi luwak khas gayo. Kopi luwak Gayo ini memang telah terkenal di seantero dunia. Tempat terbaik menikmati kopi ini adalah langsung di tempat pengolahannya, salah satunya yakni di desa Genting, Kecamatan Pining.  Selain menikmati kopi yang konon untuk secangkir kopi harganya mencapai ratusan ribu di kota besar ini, kita juga dapat bercengkrama dengan para luwak penghasil biji kopi terbaik ini, tentunya dengan ditemani sang pawang sekaligus pemilik kedai kopi tersebut.
kopi luwak yang sedang dijemur setelah "diproses"
penulis bersama luwak dan pawang

Nilai tambah menikmati kopi di kedai ini adalah selain murah kita juga bisa mendapatkan pemandangan alam berbukit yang begitu menakjubkan dari sekitar kedai. Rasanya hilang rasa lelah dan semua masalah kehidupan saat kita berada di sini. Keramahan pemilik kedai juga menjadi kredit poin tersendiri bagi kedai ini. Jangan lupa untuk membeli kopi luwak Gayo asli yang tentunya harga disini dibanderol jauh lebih murah dibandingkan dengan di toko lain di kota ini apalagi di kota besar lainnya. Mari kita berkunjung ke Gayo Lues.



Selasa, 24 Februari 2015

Danau Laut Tawar, Saat Air Laut Tidak Lagi Asin

Danau Laut Tawar, Takengon, Aceh Tengah
Mendengar kata laut, slah satu yang terlintas di pikiran kita adalah air asin. Namun pemikiran itu akan menjadi aneh saat kita mendengar kata "Danau Laut Tawar", karena laut kenapa bisa tawar?. Ya begitulah nama danau ini, masyarakat menamai Laut karena begitu luasnya danau tersebut dan rasa tawar yang ada di air danau tersebut sehingga menjadikan danau tersebut menjadi Danau Laut Tawar.
Matahari yang bersinar cerah tidak serta merta membuat cuaca menjadi panas saat saya memasuki kota Takengon, Aceh Tengah.  Hal tersebut dikarenakan kota Takengon yang termasuk dalam daerah dataran tinggi di Tanah Rencong. Sesampainya di kantor BPS Aceh Tengah yang jadi persinggahan saya,  saya hanya menaruh barang bawaan saya dan beristirahat sejenak sebelum memulai perjalanan untuk menikmati salah satu danau terindah di dunia, yaitu Danau Laut Tawar.
Tujuan pertama saya untuk menikmati Danau Laut Tawar adalah Panton Terong. Panton Terong sendiri adalah sebuah bukit yang menjadi salah satu titik terbaik untuk menikmati pemandangan Danau Laut Tawar,  karena dari tempat tersebut kita dapat melihat keseluruhan kota Takengon, hamparan Danau Laut Tawar yang hampir menyeluruh serta perbukitan yang mengelilingi  danau menjadi satu kesatuan yang  bila melihatnya mata kita seakan sedang disuguhi sebuah hidangan panorama  yang paling lezat. Belum lagi jika ada langit cerah yang dihiasi awan biru serta gumpalan awan yang menggantung di udara di sekitar bukit, itu semakin menambah kelezatan hidangan pemandangan di depan kita jika berada di Panton Terong. Terletak di atas bukit  kita tidak perlu khawatir kepanasan walaupun kita datang kesana dalam cuaca yang terik, karena ada semacam pondokan yang bisa menaungi kita untuk bersantai menikmati keindahan pemandangan. Di dalam pondokan itu kita bisa melakukan aktivitas makan bersama atau sekedar menyeruput kopi khas gayo yang tentunya harus kita siapkan sebelum kita berangkat kesana.
pemandangan dari bukit sekitar danau

pondokan di panton terong

Bila kurang puas dari bawah pondokan, kita bisa menuju anjungan yang persis berada di bibir jurang bukit. Dari sana kita bisa memandangi landscape alami yang merupakan lukisan alam yang begitu megah searah 360o kemanapun mata kita memandang tanpa halangan apapun. Bila kita berada di anjungan itu kita akan merasakan breathtaking moment  yang disebabkan begitu dekatnya kita dengan ujung jurang sekaligus kepuasan kita memandang keanggunan pemandangan Danau Laut Tawar dan kota takengon yang tersaji di titik tersebut.
pemandangan dari panton terong membuat nafas berhenti untuk sesaat

Beranjak dari bukit Panton Terong, kita dapat menikmati Danau Laut tawar sembari makan siang dan menikmati rujak buah khas takengon di warung-warung yang berada tepat berada di pinggir danau. Di tengah danau terdapat jermal-jermal tempat masyarakat berbudidaya ikan air tawar. Kebetulan dari warung yang kami singgahi terdapat rakit untuk menyebrang ke jermal tersebut.  Pemandangan yang disajikan dari pinggir maupun dari tengah danau tidak kalah indah dengan apa yang dapat disaksikan dari atas bukit. Dari bawah sini, kita dapat melihat kegagahan bukit - bukit di sekitar danau yang mengelilingi Danau Laut Tawar. Para nelayan maupun masyarakat yang berbudidaya ikan lokal yang sedang beraktifitas juga bisa kita saksikan di sini. Alangkah sempurnanya persinggahan di warung itu dengan menu ikan bakar spesial yang disajikan begitu nikmatnya.
view from beside the lake

view dari jermal nelayan lokal

Jangan lupa memasukkan Danau Laut Tawar dalam rencana perjalanan jika Anda ingin merasakan  keindahan alam, atmosfir kharismatik keramahan suku gayo, serta kuliner spesial yang dapat kita nikmati dengan pemandangan yang luar biasa.




Senin, 20 Oktober 2014

Puas Keliling Jogja Cuma Sehari?? Bisa Aja..

Candi Prambanan

Cerita berawal ketika saya dan teman saya maul akan ke surabaya untuk memulai tur jawa-bali-lombok. Namun apa mau dikata,tiket kereta semua kelas untuk hari yang ditentukan yang langsung ke surabaya ternyata habis. Akhirnya kita memutuskan untuk naik kereta ke Jogja lalu lanjut ke Surabaya naik kereta lagi.Perjalanan Jakarta-Jogja cukup nyaman. Pagi hari sekitar pukul 6, kita sampai di stasiun Lempuyangan, Yogyakarta a.k.a Jogja. Dari dulu saya masih kurang paham kenapa Yogyakarta dibilang Jogja, huruf Y diganti jadi J. Padahal pada kata yang lain, huruf J jadi Y, kaya di kata "BAJAJ", bacanya jadi bajay, ga konsisten ya bahasa kita. Ya sudahlah,hehe. Begitu sampai di stasiun, hal pertama yang kita cari adalah tiket ke Surabaya, karena besok kita harus sudah berada di Surabaya untuk naik KA.Mutiara Timur yang tiketnya sudah dibeli sama Radit, teman saya dari Malang. Alhamdulillah, kita dapat tiket Gaya Baru Malam yang berangkat sekitar jam 9 malam, seharga 31.500.

Tiket dapat, perut pun teriak, akhirnya kita menyerbu angkringan di sekitar St. Lempuyangan untuk sarapan. Awalnya di angkringan kita cuma pesan teh hangat, karena merasa nasi kucing kurang pas untuk ukuran sarapan kita. Untungnya ada penjual soto campur dekat angkringan, jadi kita pesan soto ayam campur yang harganya cuma 5rb/porsi. Klo nambah sate ati cuma seribu/tusuk. Selesai sarapan kita mau melanjutkan perjalanan, tapi badan kayanya butuh penyegaran, jadilah kita cari toilet umum buat mandi dll. Kemudian kita singgah untuk bersih-bersih di toilet umum dekat St. Lempuyangan, yang dsitu juga ada parkiran motor inap. Rencananya kita juga mau nitip tas kita yang segede gaban biar jalan-jalannya lebih santai aja. Tapi ternyata di parkiran motor itu tidak bersedia untuk ditiipkan tas. Tanya sana sini, akhirnya tas kita bisa dititipkan di masjid stasiun, dengan biaya seikhlasnya. Alhamdulillah. 

Setelah dapat penitipan tas, kita bingung mau kemana, karena sebenarnya jalan-jalan di Jogja tidak masuk agenda kita. Keputusan pun diambil, kita meninggalkan St.Lempuyangan menuju ke halte Trans Jogja terdekat. Naik Becak kena 10rb, agak mahal , tapi ya kasian juga sama tukang becaknya. Begitu sampai di halte kita bingung lagi mau kemana. Tanya-tanya sama petugas trans jogja, kayanya Candi Prambanan cukup menarik untuk mengisi waktu. Ongkos naik trans Jogja cuma 3 ribu/orang. Di Perjalanan kita sempat membandingkan antara Trans Jogaj dengan Trans Jakarta. Saya merasa Trans Jogja lebih manusiawi dibandingkan dengan Trans Jakarta, karena petugasnya yang lebih ramah. Sekitar 50 menit kita sampai di Shelter andi Prambanan. Kita bingung lagi mau naik apa dari shelter ke komplek Candi, akhirnya kita naik becak lagi, dan bayar 10 ribu lagi. Sampai di gerbang loket candi beli tiket dengan HTM 20 ribu, klo mau paket tur ke candi ratu boko, HTM 30 ribu. Kita pilih yang 20 ribu aja. Di kawasan Candi Prambanan ada juga Candi sewu dan candi Lumbung. Cuaca disana panas bgt, jadi disarankan kalau mau ke sana bawa payung atau minimal topi kalau malu pakai payung. Kalau ga bawa payung atau topi jangan khawatir, karena di sana ada yang menyewakan payung dan juga ada yang jualan topi di pasar souvenir sebelum loket. Selain itu kalau disarankan pula memakai kaca mata hitam, agar mata tidak terlalu sakit kena silaunya matahari. Melihat Candi Prambanan yang megah merupakan pengalaman pertama bagi saya. Ternyata bagus juga candinya, tidak terbayang bagaimana orang-orang zaman kerajaan bisa bikin candi yang begitu megah. Tapi sayangnya waktu kita disana lagi ada bagian candi yang sedang direnovasi, jadi ada beberapa tempat yang tidak dapat kita kunjungi. Setelah lelah berputar-putar komplek candi, minuman segar adalah sesuatu yang wajib hukumnya. Berjalan lumayan jauh akhirnya kita beli minum di sebuah restoran. Dekat restoran yang jual minuman ada pohon jambu mete a.k.a jambu monyet, teman saya maul katanya lagi ngidam sama jambu itu (kurang tau juga maul sudah hamil berapa bulan,hhe), minta izin sama orang resto buat minta jambu, diizinin,maka langsung aja kita ambil jambu sekitar 3 biji. Rasanya sepet agak asam,tapi banyak sekali mengandung air, sangat mendukung untuk cuaca yang lagi panas-panasnya. Boleh dicoba kalau ada yang berkunjung kesana. Sambil makan jambu kita akan melewati penangkaran rusa sebelum sampai ke pasar souvenir dan pintu keluar.
Maul Bergaya Di Komplek Candi


Topi sangat penting di Prambanan yang Panas





Lelah setelah mengunjungi Candi Prambanan perut sudah mulai teriak minta diisi,kita pun langsung makan di angkringan dekat pintu masuk kawasan Candi. Saya makan dengan menu nasi kucing ikan, tempe goreng 2 dan minumnya es tawar cuma bayar 3 ribu aja,murah kan.

Sehabis makan kita sholat di masjid dekat komplek Masjid, masjidnya kental dengan ornamen jawa. Setelah sholat kita berangkat menuju taman pintar. Tujuan ini juga baru ditetapkan setlah kita sampai di shelter Trans Jogja. Sesampainya di Taman Pintar ternyata sedang ada acara dari Walikota Jogja. Kita sempat sholat dan mengisi baterai handphone di mushola taman pintar. Karena waktu yang sudah sore, kita memutuskan untuk tidak masuk ke gedung, karena sebentar lagfi tutup. Jadi kita hanya sempat foto-foto dan mengunjungi tempat yang di luar gedung. Di luar gedung pun menurut saya sudah sangat bagus dan informatif. Ada beberapa wahana yang cukup interaktif, seperti taman air mancur yang cukup membuat segar kalau lagi kepanasan dan juga ada prasasti yang berisi riwayat presiden-presiden Indonesia yang dilengkapi dengan suara dari setiap presiden. Mungkin yang paling menonjol dan menarik perhatian saat kita datang adalah gong besar yang berisi lambang seluruh provinsi dan kabupaten di Indonesia. Selai itu ada pula miniatur desa yang bertema " Desaku Permai". Setelah dari Taman Pintar kita sempat makan makanan yang baru saya temui di Jogja yaitu Burger Jamur. Burger dengan isi daging buatan dari jamur. Rasanya cukup lezat untuk burger seharga 5 ribu rupiah.
Gedung Oval,Taman Pintar berisi berbagai pengetahuan


Patung jadi sumber informasi atraktif

Plasa Air Mancur, bikin segar di waktu panas :-)


Taman Pintar yang mengagumkan kita tinggalkan, lalu kita lanjut berjalan ke alun-alun keraton untuk menikmati sore hari kota jogja. Sepanjang perjalanan kita melihat gedung-gedung bergaya klasik yang masih berdiri kokoh. Salah satunya dijadikan kantor pos. Lalu dilanjutkan dengan mengunjungi Masjid dekat keraton Jogja. Saat Hari Senja kita beranjak ke jalan Malioboro sebelum akhirnya kembali ke St. Lempuyangan dengan Trans Jogja untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Sungguh perjalanan sehari yang di luar dugaan. Niat hati hanya ingin transit di Jogja, ternyata Saya dan teman saya maul telah mengunjungi Candi Prambanan, Taman Pintar, Keraton Jogja, dan Malioboro hanya dalam waktu kurang dari 18 jam, ditambah bonus mencicipi jambu monyet khas prambanan dan Burger Jamur menjadi pengalaman transit yang paling menarik buat Saya. 

Ayo kita ke Jogja, walaupun waktumu sempit dan tidak ada kendaraan pribadi ternyata bukan alasan untuk tidak dapat berwisata dan menikmati eksotika di kota budaya, Yogyakarta.

Jumat, 07 Maret 2014

Tantangan dan Keajaiban di Air Terjun 2 Warna



Sumatera Utara, jika kita mendengar nama provinsi itu dan mengaitkannya dengan tempat wisata mungkin langsung terbesit di benak kita adalah danau Toba yang merupakan danau terbesar di Indonesia. Namun sebenarnya tidak hanya danau Toba yang bisa membuat kita berdecak kagum dengan keindahannya jika kita pergi ke provinsi yang didominasi oleh suku Batak ini. Kalau kita ingin ke danau Toba cukup jauh dari Medan, maka kali ini saya mencoba mengangkat tempat yang tidak jauh dari kota Medan, yaitu Sibolangit, tepatnya ke Air Terjun 2 Warna yang terletak masih di kaki Gunung Sibayak.  Perjalanan menuju lokasi dari kota Medan dapat ditempuh hanya dalam satu jam perjalanan. Bila kita tidak membawa kendaraan pribadi, dengan kendaraan umum kita bisa menaiki angkutan umum yang menuju Berastagi dan kita dapat turun di depan Bumi Perkemahan Sibolangit. Sesampainya di Bumi Perkemahan, kita harus mendatangi Pos pendaftaran untuk mendaftar dan mendapat guide yang akan menjadi penunjuk jalan kita mencapai lokasi air terjun. Dari gerbang Bumi Perkemahan memang tidak begitu jelas tanda arahan menuju pos pendaftaran ke air terjun ini, namun orang-orang sekitar bisa menginformasikan dengan jelas jika kita bertanya.
Berdoa dan sedikit briefing  dilakukan sebelum memulai perjalanan. Saat pertama memasuki hutan ada paralon yang terbuka dan menyemburkan air dari mata air alami yang memang bisa langsung dikonsumsi, jadi kita bisa mengisi botol air minum kita di situ untuk bekal selama di perjalanan. Di awal perjalanan kita akan menyusuri aliran air kecil dari atas gunung yang sudah dibuat sangat rapi. Setelah itu kita akan menemui pintu air yang cukup besar yang digunakan untuk mengatur debit air saat debit air cukup deras. Setelah itu perjalanan akan didominasi jalur hutan yang selalu menanjak. Dibutuhkan kesabaran dalam menempuh perjalanan ini. Sesekali kita bisa melihat burung-burung yang ada di hutan hinggap di dahan sekitar pohon yang kita lewati.
Perjalanan menanjak akan berakhir sampai kita bertemu turunan yang sangat curam untuk dilewati. Disitulah tantangan sekaligus hal yang mengasyikkan dalam perjalanan menuju air terjun 2 warna ini. Namun kita tidak perlu khawatir, karena ada tali yang telah terpasang untuk membantu kita turun. Walaupun sudah ada tali, perlu kewaspadaan ekstra  saat kita menuruni jalur tersebut karena tanah yang licin di sekitar jalur. Selepas turunan yang curam kita akan menjumpai sungai yang bersih dipenuhi batu-batu sungai yang besar. Disini kita sudah sedikit diberikan pesona air sungai yang berwarna biru dan warna abu-abu yang berasal dari air terjun di hulu sungai. Sangat menenangkan saat melewati jalur ini, hijaunya pepohonan ditambah suara gemericik aliran sungai yang dengan perlahan mengalir akan menambah semangat kita untuk mencapai tempat utama air terjunnya. Jalur setelahnya didominasi menyeberangi dan mengikuti aliran sungai menuju air terjun. Sekitar 15 menit menyusuri sungai, maka kita akan disuguhkan oleh pemandangan yang luar biasa indah dan sangat memanjakan mata, yaitu Air Terjun 2 warna. Dua warna bukan sekedar nama, dua warna disini memang mewakili dua air terjun yang ada di tempat itu. Air terjun dengan air berwarna biru yang menjulang tinggi di sebelah kiri dan air terjun berwarna putih cenderung abu-abu akibat adanya kandungan belerang yang ada di sebelah kanan.
Air Terjun Berwarna Biru bersuhu dingin 
Air Terjun berwarna putih bersuhu hangat

Perbedaan air terjun 2 warna tersebut tidak hanya ada pada warna, tetapi juga pada suhu air yang mengalir pada dua aliran yang berbeda tersebut. Pada air terjun yang berwarna biru kita akan merasakan air yang dingin saat berada di sekitarnya sehingga tubuh akan terasa sangat segar bila kita ada disana, namun pada air terjun lainnya kita akan merasakan air hangat yang dapat merelaksasi  tubuh kita setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga dari pos kedatangan. Karunia ALLAH memang luar biasa, tidak ada hal yang tidak dapat Dia perbuat. Keajaiban dua air terjun yang berdekatan tetapi memiliki warna dan suhu ini menjadi salah satu bukti Keagungan-Nya. Jadi, suatu yang berharga jika Anda bisa datang ke air terjun menakjubkan ini yang sangat berbeda dari air terjun manapun yang ada di Indonesia, bahkan mungkin dunia, dia adalah Air terjun 2 warna.
Keindahan Air Terjun 2 warna

Sabtu, 07 September 2013

Puncak Merapi, Saat Sumber Erupsi Begitu Dekat.





Gunung Merapi yang sempat erupsi hebat pada tahun 2010 dan memakan banyak korban,baik manusia, hewan bahkan materi lainnya masih menjadi gunung berapi teraktif di dunia sampai saat ini. Ya dunia, bukan hanya Indonesia, menjadikan gunung ini sangat menantang untuk dapat kita jelajahi sampai puncaknya. Sampai di puncak Merapi merupakan pengalaman yang  sangat luar biasa. Suara gemuruh dari kawah yang sesekali  menyeruak seakan selalu siap mengeluarkan materialnya saat kita disana membuat adrenalin terus terpacu. Belum lagi angin kencang yang selalu berhembus kencang menggiring awan tebal di sekitar puncak bergerak naik menimbulkan rasa dingin yang dapat menusuk tulang dan sangat mengusik kestabilan tubuh yang sudah lelah melangkah dari bawah. Pasir vulkanik yang ikut terbawa angin menyebabkan tangan menjadi sering menyeka mata untuk dapat melihat dengan jelas.

 Batu-batu  vulkanik besar yang berserak di jalur yang tidak begitu jelas menggambarkan betapa dahsyatnya gunung ini saat melakukan aktivitas erupsinya. Di kejauhan kita akan disuguhkan penampakan  para  gunung ‘tetangga’ dari gunung yang menjadi salah satu simbol Kesultanan Yogyakarta ini. Hamparan yang tidak begitu luas di sekitar puncak mengharuskan kita untuk selalu waspada saat berada di sana, karena bibir kawah utama ada di samping kita dan selalu menganga untuk dapat menerima objek apapun yang bisa masuk ke dalamnya. Pemandangan yang senantiasa menakjubkan akan membuat kita terus bersyukur terhadap nikmat Tuhan yang diberikan dan juga rasa bangga menjadi warga negara dari Republik Indonesia.  Karena hanya dengan nikmat-Nya lah raga kita dapat sampai di puncak gunung teraktif di dunia, Gunung Merapi, dan dapat kembali dengan selamat serta dengan nikmat-Nya pula negeri ini menjadi begitu indah dengan segala kekayaannya untuk dapat dijelajahi. 

Sabtu, 30 Maret 2013

Dusun Gajah Saree, Tempat Asyik Bermain dengan Gajah




Gajah merupakan salah satu hewan purbakala yang masih ada sampai saat ini. Namun karena jumlahnya yang semakin hari semakin berkurang menjadikan gajah sebagai hewan yang dilindungi. Selama ini untuk dapat melihat gajah kita harus berkunjung ke kebun binatang atau taman safari yang ada di sekitar kota kita. Namun suatu hari saya mendapat kesempatan menyaksikan gajah di sebuah dusun yang didominasi hutan lebat.
Saree, itulah nama daerah dimana terdapat sebuah dusun yang bernama dusun Gajah. Terletak dalam wilayah Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Sebenarnya pemberian nama dusun Gajah itu sendiri bukan tanpa alasan, karena memang di dusun tersebut terdapat hutan yang menjadi semacam sekolah gajah layaknya sekolah gajah yang terdapat di Way Kambas, Lampung. Gajah-gajah yang berada disini terdiri dari gajah yang memang habitat aslinya ada di kawasan tersebut maupun gajah-gajah liar di kawasan hutan Aceh yang sering masuk ke pemukiman atau perkebunan warga.
Sebenarnya kunjungan saya ke dusun Gajah merupakan sebuah hasil dari rasa penasaran saya ketika orang lain mengidentikan Saree dengan gajah di Aceh. Kebetulan saya saat itu sedang mengikuti sebuah pelatihan teknis statistik pertanian di daerah tersebut dan saat istirahat sore, saya dan teman-teman perwakilan BPS kabupaten lain di Aceh berkeliling menggunakan sepeda motor untuk menemukan kawasan gajah yang banyak dibicarakan orang tersebut. Ketika sampai di sebuah kawasan yang penuh dengan penjual oleh-oleh khas Saree, salah satu teman saya menanyakan tentang dimana kita dapat menemukan gajah di sana kepada salah seorang penjual oleh-oleh. Orang tersebut mengatakan ada di dusun gajah namun menurutnya gajahnya keluar hanya pada hari sabtu, minggu, ataupun liburan. Penjelasan orang itu tidak membuat kami patah semangat menemukan gajah pada sore itu. Akhirnya kami tetap mendatangi dan menelusuri dusun gajah yang dimaksud.
Sekitar 300 meter dari gapura dusun gajah terdapat sebuah lapangan rumput yang mana setelah lapangan rumput itu adalah hutan tempat gajah-gajah itu hidup. Beruntungnya kami saat kami kesana kami melihat seekor bayi gajah yang masih berumur satu tahun bersama pawangnya yang sedang bermain di sekitar lapangan tersebut. Bayi gajah tersebut bernama Agam. Saya pribadi baru kali ini bertemu secara langsung dengan bayi gajah, ternyata tingkahnya cukup menggemaskan. Hanya bertemu dengan bayinya tidak membuat kami puas, akhirnya kami meminta pawangnya untuk memanggil gajah yang sedang ada di hutan. Awalnya kami ragu, tetapi ternyata dengan senang hati sang pawang menjemput salah satu gajah yang ada di dalam hutan untuk diperlihatkan pada kami. Tidak hanya itu, pawang itu bahkan menawarkan kepada kami untuk menaiki gajah yang dijemputnya. Akhirnya kami pun secara bergantian menaiki gajah liar tersebut.
Mungkin Anda mengira naik gajah itu sudah biasa karena bisa dilakukan di kebun binatang atau taman safari. Sensasi yang akan Anda temui tentu akan berbeda saat anda menaiki gajah liar di Saree ini. Kalau biasanya kita bisa duduk manis dengan alas duduk yang ada di atas gajah, disini kita langsung duduk menyentuh kulit gajah yang tebal dan keras tersebut. Rasa hangat dari tubuh gajah dan pergerakan tulang gajah saat berjalan bisa kita rasakan langsung disini, tentu hal ini tidak akan Anda rasakan saat menaiki gajah di tempat pariwisata pada umumnya. Selain itu, jika biasanya kita harus menaiki tangga sebelum menaiki gajah maka kalau disini justru gajah itu yang akan duduk terlebih dahulu saat kita akan naik maupun turun dari tubuh gajah. Medan yang dilalui saat kita berkeliling gajah pun lebih menantang karena gajah itu sempat memasuki hutan alami di sekitar lapangan tersebut sebelum kembali ke lapangan itu. Satu hal yang saya takjub adalah kemampuan pawang untuk membuat gajah itu menurut kepadanya.

 Jika biasanya kita melihat pawang di tempat wisata menggunakan alat dari besi yang dipukul ke badan gajah agar gajah itu menurutinya, tidak demikian dengan pawang di Saree. Di sini pawang tersebut tidak menggunakan alat apapun alias tangan kosong untuk memerintah si gajah. Pawang itu hanya memberikan perintah dan isyarat-isyarat kepada gajahnya, sehingga di sini tidak ada gajah yang tersakiti dengan alat besi pemukul tersebut. Tidak adanya batas antara kami dan gajah untuk bermain-main menghadirkan suatu rasa yang sangat berbeda dibanding menyaksikan gajah di tempat lain.



Untuk dapat bermain-main di dusun gajah ini, sebenarnya kita tidak dipungut biaya sepeser pun. Namun alangkah lebih baiknya jika kita dapat memberi manfaat kepada pawang-pawang yang berloyalitas merawat binantang langka tersebut. Letak dusun yang berada di sisi jalan lintas Medan-Banda Aceh membuat kawasan ini sangat mudah ditemui jika kita telah memasuki kawasan Saree, Aceh Besar. Dari kota Medan, perjalanan ke tempat ini bisa ditempuh sekitar 11 jam perjalanan. Sedangkan dari Banda Aceh, perjalanan ke tempat ini hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Tidak ada papan nama besar untuk tempat ini, yang ada hanya sebuah papan nama kecil dekat gerbang dusun gajah. Namun Anda tidak perlu khawatir akan sulit menemuinya. Karena bila kita menemui jejeran toko penjual oleh-oleh khas Saree dan rumah makan yang bertuliskan Gajah di jalan itu berarti kita sudah sampai di sekitar kawasan tersebut. Bermain dengan gajah di alam liar bisa menjadi sebuah pengalaman yang patut Anda coba jika Anda berkunjung ke Aceh. Selamat menikmati Indonesia.