Salah satu jalur untuk mencapai puncak Gunung Rinjani, Lombok, adalah
jalur Sembalun. Ada keunikan pada jalur ini yang tak dimiliki jalur
lain, salah satunya karena hamparan luas rerumputan bak dunia
Teletubbies!
Gunung Rinjani adalah salah satu gunung terindah yang dimiliki
Indonesia. Kemasyhurannya tidak hanya di dalam negeri tetapi sampai ke
mancanegara. Tidak heran jika mendaki gunung tersebut, kita akan lebih
sering bertemu dengan pendaki asing dibandingkan dengan pendaki lokal.
Kali ini saya akan memulai cerita keindahan alam taman nasional Gunung
Rinjani dari jalur pendakian bagian timur, yaitu jalur Sembalun.
Konon, jalur Sembalun adalah jalur yang tercepat untuk sampai ke puncak
Rinjani dibandingkan jalur Senaru yang lebih familiar di kalangan
pendaki. Perjalanan kami mulai melalui desa Bawak Nau, karena kami bisa
hemat waktu 2 jam dibandingkan jika berangkat dari gerbang Sembalun.
Ketika akan berangkat kami melihat gerombolan sapi arak-arakan bagaikan
sedang karnaval di jalan utama desa. Saya sempat kaget, melihat begitu
banyak sapi di jalan umum. Ternyata sapi-sapi tersebut adalah punya
warga di desa tersebut dan sedang digembala oleh seorang gembala sapi.
Ya satu orang gembala sapi, tidak lebih, menggembala sekitar 50 sapi.
Hal ini cukup menarik karena sang gembala bisa menjaga begitu banyak
sapi dengan hanya seorang diri.
Kami berdoa sebelum memulai perjalanan panjang. Awal perjalanan kami melewati rumah penduduk dan perkebunan sayur penduduk. Setelah keluar dari perkebunan, kami disuguhkan pemandangan menakjubkan dari istana Sang Dewi Anjani. Gunung Rinjani yang begitu gagah berdiri tegap dengan diselendangi awan putih pada hamparan langit nan biru semakin memacu semangat kami untuk bisa sampai ke puncaknya. Hamparan padang savana di jalur ini mengingatkan saya pada dunia serial anak Teletubbies yang sempat 'booming' pada awal tahun 2000-an. Jajaran padang rumput yang seperti tiada bertepi dan konturnya yang berbukit, benar-benar seperti tempat bermain Tinky Winky dan kawan-kawannya. Namun tentu saja, di tempat ini pemandangannya jauh lebih indah!
Setelah memasuki hutan sekitar setengah jam, lagi-lagi kami berhadapan dengan savana berbukit. Namun pada kesempatan ini kamibertemu dengan sapi-sapi yang tadi ditemui di desa yang sedang asik menyantap rumput di tanah lapang. Sementara penggembala sapinya sendiri sedang beristirahat. Kami menyempatkan diri untuk istirahat sebentar di situ. Menurut Bang Gmok yang menjadi pemandu kami, walaupun sapi yang digembala banyak, sang gembala tidak akan lupa satu per satu sapinya. Dan walaupun sapi-sapi itu tersebar di savana yang luas, mereka akan berkumpul jika sang gembala memanggilnya. Tampaknya kemampuan memanggil sapi tersebut adalah sebuah keterampilan yang tidak sembarangan. Jika dipanggil, maka sapi-sapi tersebut akan menghampirinya dan jika masih ada sapi yang belum kumpul, maka gembala itu pasti akan mengetahuinya. Tidak salah jika saya menyebut gembala sapi itu adalah "Sang Gembala Sakti", karena kemampuannya tidak dimiliki semua orang bahkan orang yang biasa menggembala sekalipun. Perjalanan kami lanjutkan dengan terus naik turun 'bukit Teletubbies' alami yang ternyata lebih luas dibandingkan yang ada di serial tv.
Cuaca yang tak terlalu terik membuat perjalanan terasa lebih ringan. Menurut saya, jika anda ingin menggapai puncak Gunung Rinjani lebih cepat, ada baiknya anda memilih jalur Sembalun yang lebih landai namun tidak kalah menarik dibandingkan jalur lainnya. Siapa tahu anda bisa bertemu "Sang Gembala Sakti" di hamparan 'bukit Teletubbies' alami yang hijau dan begitu mengagumkan.
Kami berdoa sebelum memulai perjalanan panjang. Awal perjalanan kami melewati rumah penduduk dan perkebunan sayur penduduk. Setelah keluar dari perkebunan, kami disuguhkan pemandangan menakjubkan dari istana Sang Dewi Anjani. Gunung Rinjani yang begitu gagah berdiri tegap dengan diselendangi awan putih pada hamparan langit nan biru semakin memacu semangat kami untuk bisa sampai ke puncaknya. Hamparan padang savana di jalur ini mengingatkan saya pada dunia serial anak Teletubbies yang sempat 'booming' pada awal tahun 2000-an. Jajaran padang rumput yang seperti tiada bertepi dan konturnya yang berbukit, benar-benar seperti tempat bermain Tinky Winky dan kawan-kawannya. Namun tentu saja, di tempat ini pemandangannya jauh lebih indah!
Setelah memasuki hutan sekitar setengah jam, lagi-lagi kami berhadapan dengan savana berbukit. Namun pada kesempatan ini kamibertemu dengan sapi-sapi yang tadi ditemui di desa yang sedang asik menyantap rumput di tanah lapang. Sementara penggembala sapinya sendiri sedang beristirahat. Kami menyempatkan diri untuk istirahat sebentar di situ. Menurut Bang Gmok yang menjadi pemandu kami, walaupun sapi yang digembala banyak, sang gembala tidak akan lupa satu per satu sapinya. Dan walaupun sapi-sapi itu tersebar di savana yang luas, mereka akan berkumpul jika sang gembala memanggilnya. Tampaknya kemampuan memanggil sapi tersebut adalah sebuah keterampilan yang tidak sembarangan. Jika dipanggil, maka sapi-sapi tersebut akan menghampirinya dan jika masih ada sapi yang belum kumpul, maka gembala itu pasti akan mengetahuinya. Tidak salah jika saya menyebut gembala sapi itu adalah "Sang Gembala Sakti", karena kemampuannya tidak dimiliki semua orang bahkan orang yang biasa menggembala sekalipun. Perjalanan kami lanjutkan dengan terus naik turun 'bukit Teletubbies' alami yang ternyata lebih luas dibandingkan yang ada di serial tv.
Cuaca yang tak terlalu terik membuat perjalanan terasa lebih ringan. Menurut saya, jika anda ingin menggapai puncak Gunung Rinjani lebih cepat, ada baiknya anda memilih jalur Sembalun yang lebih landai namun tidak kalah menarik dibandingkan jalur lainnya. Siapa tahu anda bisa bertemu "Sang Gembala Sakti" di hamparan 'bukit Teletubbies' alami yang hijau dan begitu mengagumkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar